Jumat, 09 Januari 2015

Reading Course 7&8 - Teori-teori tentang Pengetahuan

A. Pengetahuan dan Keyakinan
            Pengetahuan adalah informasi yang diketahui atau disadari oleh manusia, atau pengetahuan adalah berbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan indrawi. Pengetahuan akan muncul ketika orang menggunakan akal atau indranya untuk mengenali benda atau peristiwa tertentu yang belum pernah dilihat atau dirasakan. Misalnya, saat pertama kali orang makan cabai maka Dia akan tahu bagaimana rasa cabai itu, bentuknya, warnanya, atau bahkan akan bertanya-tanya apa zat-zat apa yang dikandungnya.
Keyakinan adalah suatu sikap yang ditunjukkan manusia saat dia merasa cukup tahu dan menyimpulkan bahwa dirinya telah mencapai kebenaran. Maksudnya adalah orang akan merasa yakin kalau apa yang mereka ketahui adalah benar. Jadi, keyakinan terjadi setelah orang percaya adanya suatu kebenaran.
Mmenurut teori pengetahuan sebagai kesesuaian, keyakinan adalah suatu pernyataan yang tidak disertai bukti yang nyata. Misalnya, petir disebabkan oleh amukan para dewa. Pernyataan ini tidak bisa dibuktikan, sehingga hanya bisa dikatakan sebagai suatu keyakinan. Sementara pernyataan petir disebabkan kerena adanya tabrakan antara awan yang bermuatan positif dan negative adalah suatu kebenaran, karena dapat dibuktikan. Sehingga pernyataan ini disebut sebagai pengetahuan.
Ada dua istilah yang berhubungan dengan keyakinan dan pengetahuan.
     1. Magic power- (kekuatan magis) –> fenomena kekuatan gaib. Orang yang lebih percaya pada sesuatu yang aneh(karena tidak tahu sebabnya) sebagai kekuatan magis
     2. Naturalisme, berarti sesuatu yang alami. .
Ada sebuah cerita tentang seorang pemuka agama yang bertemu dengan seorang anak. Pemuka agama itu hendak pergi ke Kantor Pos, tapi dia tidak tahu jalan menuju kesana. Dalam kebingungannya itu Dia bertemu dengan seorang anak, kemudian pemuka agama itu bertanya” Nak, apakah kamu tahu jalan menuju Kantor Pos?” anak itu menjawab “ Bapak jalan saja lurus, nanti kalau ada pertigaan Bapak belok kiri. Bapak jaln terus sampai menemui perempatan , kemudian belok kanan kurang lebih 300 meter dari peempatan itu pak!” pemuka agama itu berkata “ Kamu memang anak yang baik, besok di akhirat saya akan menuntun kamu ke jalan Surga.” Anak itu menyaut “ Yaah Bapak…jalan ke Kantor Pos saja tidak tahu, apalagi jalan ke Surga.”
Cerita diatas adalah contoh yang nyata antara apa yang disebut sebagai pengetahuan dan keyakinan. Seorang pemuka agama percaya dengan omongan anak kecil, tapi seorang anak kecil tidak percaya dengan omongan seorang pemuka agama. Ini dikarenakan informasi yang diberikan oleh anak kecil itu adalah adalah pengetahuan yang nyata dan bisa dibuktikan kebenarannya. Sementara informasi yang diberikan oleh pemuka agama itu hanyalah berupa suatu keyakinan yang belum bisa dibuktikan kebenarannya. Kita yakin bahwa Surga dan Neraka itu ada, tapi kita tidak bisa membuktikannya sehingga sulit untuk dipercaya.
Sesuatu yang erat kaitannya dengan keyakinan adalah agama. Agama adalah keyakinan yang paling umum dan dianut oleh sebagian besar orang diseluruh dunia. Banyak orang memandang agama sebagai sesuatu yang sacral dan suci. Tidak ada orang yang boleh meremehkan kepercayaan yang satu ini. Pencipta akan mengutus seseorang untuk menyebarkan ajaran kepada seluruh umat manusia. Ajaran yang diyakini dapat membawa kedamaian bagi umat manusia. Memang benar, kadang-kadang agama bisa membawa kedamaian bagi manusia, tapi sebaliknya agama juga bisa menjadi sumber petaka bagi manusia.
      Walaupun pegetahuan dan keyakinan adalah dua hal yang berbeda, tapi sebenarnya dua hal itu adalah saling melengkapi. Tanpa pengetahuan, keyakinan yang kita miliki tidak akan memberi kontribusi yang berarti dalam hidup kita. Pengetahuan tanpa diimbangi dengan keyakinan juga akan menimbulkan kekacauan. Penemuan-penemuan ilmuwan tidak akan memberi kebahagiaan pada manusia jika dalam pemanfaatanya hanya mengandalkan nafsu saja. Seharusnya dalam pemanfaatan penemuan itu diikuti dengan pemikiran apakah hal yang dilakukan dengan penemuan itu benar atau tidak.         

b. Sumber pengetahuan : Rasionalisme dan Emprisme  

            1.      Rasionalisme.
Rasionalisme adalah bahwa hanya dengan menggunakan prosedur tertentu dari akal saja bisa sampai pada pengetahuan yang sebenarnya, yaitu pengetahuan yang tidak mungkin salah. Menurut kaum rasionalis, sumber pengetahuan, adalah akal budi manusia. Dengan akal budi yang memberi pengetahuan yang pasti benar tentang sesuatu. Oleh karena itu, konsekuensinya adalah kaum rasionalis menolak anggapan bahwa seseorang bisa menemukan pengetahuan melalui pancaindra. Pemahaman rasionalisme oleh pemikiran dua tokoh yaitu :
a. Plato  b. Rene Descartes
Bahwa berfikir, akal budi, adalah unsur paling pokok pada manusia, sekaligus bagi pengetahuan bagi manusia. Akal budi adalah landasan paling kokohdan paling pokok dari pengetahuan manusia. Artinya, apa yang lolos dari seleksi akal budi dapat diterima sebagai pengetahuan yang benar.

          2.      Empirisisme

Seperti halnya rasionalisme dan para filsuf rasionalis, empirisme dan juga para filsuf empirisis, sesunggunya ingin menanggapi persoalan yang diajukan skeptisisme. Kaum empirisis pun ingin mencari dasar yang kokoh, dasar pembenaran bagi pengetahuan sejati dengan menvcari bukti yang kuat bagi pengetahuan yang benar, berusaha menemukan pembenaran, atau pembuktian yang kokoh bagi pengetahuan manusia dengan menuntut kepastian akan kebenaran pengetahuan manusia, dan karena itu menolak pengetahuan yang tidak didasarkan pada bukti yang menyakinkan.
Empirisisme adalah paham filosofis yang mengatakan bahwa sumber satu-satunya bagi pengetahuan manusia adalah pengalaman. Untuk bisa sampai pada pengetahuan yang benar, menurutnya adalah data dan fakta yang ditangkap oleh pancaindra. Dengan kata lain pengetahuan yang benar adalah yang diperoleh melalui pengalaman dan pengamatan pancaindra, dengan sumber pengalaman dan pengamatan pancaindra tersebut yang memberi data dan fakta bagi pengetahuan seseorang. Semua konsep dan ide dianggap benar dengan sumber dari pengalaman seseorang dengan objek yang ditangkap melalui pancaindra.
Atas dasar ini, semua pengetahuan manusia bersifat empiris. Pengetahuan yang benar dan sejati, yaitu pengetahuan yang pasti benar adalah pengetahuan indrawi, pengetahuan empiris.
Pengalaman yang dimaksud adalah pengalaman yang terjadi melalui dan berkat bantuan pancaindra. Pengalaman semacam ini berkaitan dengan data yang ditangkap melalui pancaindra, khususnya yang bersifat spontan dan langsung.dengan kata lain bertujuan untuk mengumpulkan fakta dan data itulah yang merupakan titik tolak dari pengetahuan manusia karena pada dasarnya mengetahui tentang sesuatu hanya berdasarkan dan hanya dengan titik tolak pengalaman indrawi.
Pancaindra memainkan peranan penting dibandingkan dengan akal budi, karena : pertama, semua proposisi yang diucapkan merupakan hasil laporan dari pengalaman atau disimpilkan dari pengalaman. Kedua, seseorang tidak bisa punya konsep atau ide apapun tentang sesuatu kecuali yang didasarkan pada apa yang diperoleh dari pengalaman. Ketiga, akal budi hanya bisa berfungsi kalau punya acuan ke realitas atau pengalaman.

c. Kebenaran Ilmiah            
Salah satu pokok yang fundamental dan senantiasa aktual dalam pergumulan hidup manusia merupakan upaya mempertanyakan dan membahasakan kebenaran. Kebenaran boleh dikata merupakan tema yang tak pernah tuntas untuk diangkat ke ranah akal (dan batin) manusia. Kebenaran menurut arti leksikalnya adalah keadaan (hal) yang cocok dengan keadaan (hal) yang sesungguhnya. Itu berarti kebenaran merupakan tanda yang dihasilkan oleh pemahaman (kesadaran) yang menyatu dalam bahasa logis, jelas dan terpilah-pilah (Bagus, 1991:86).
Kebenaran ilmiah tidak bisa dilepaskan dari makna dan fungsi ilmu itu sendiri sejauh mana dapat digunakan dan dimanfaatkan oleh manusia. Di samping itu proses untuk mendapatkannya haruslah melalui tahap-tahap metode ilmiah.
Definisi Kebenaran
Kebenaran dapat dipahami berdasarkan tiga hal yakni, kualitas pengetahuan, sifat/karakteristik dari bagaimana cara atau dengan alat apakah seseorang membangun pengetahuan itu, dan nilai kebenaran pengetahuan yang dikaitkan atas ketergantungan terjadinya pengetahuan itu.
Kualitas pengetahuan dapat dibagi dalam empat macam, yaitu:
Pengetahuan biasa: sifatnya subjektif, artinya amat terikat pada subjek yang mengenal; memiliki sifat selalu benar, sejauh sarana untuk memeperoleh pengetahuan bersifat normal atau tidak ada penyimpangan.
Pengetahuan ilmiah: bersifat realtif, artinya kandungan kebenaran ini selalu mendapatkan revisi atau diperkaya oleh hasil penemuan yang paling mutakhir.
Pengetahuan filsafati: bersifat absolut-intersubjektif, artinya selalu merupakan pendapat yang selalu melekat pada pandangan filsafat seorang pemikir filsafat itu serta selalu mendapt pembenaran dari filsuf kemudian yang mengunakan metodologi pemikiran yang sama pula.
Pengetahuan agama: bersifat dogmatis, artinya pernyataan dalam agama selalu dihampiri oleh keyakinan yang telah tertentu sehingga pernyataan-pernyataan dalam kitab-kitab suci agama memiliki nilai kebenaran sesuai dengan keyakinan yang digunakan untuk memahaminya itu.
Cara Memperoleh Kebenaran
Kebenaran dapat diperoleh melalui pengetahuan indrawi, pengetahuan akal budi, pengetahuan intuitif, dan pengetahuan kepercayaan atau pengetahuan otoritatif.
Nilai kebenaran
Bagi positivis, benar substantif menjadi identik dengan benar faktual sesuai dengan empiri. Bagi realis, benar substantif identik dengan benar riil objektif, benar sesuai dengan konstruk skema rasional tertentu.
Sedangkan benar epistemologik berbeda, terkait pada pendekatan yang digunakan dalam mencari kebenaran. Kebenaran positivistik dilandaskan pada diketemukannya frekuensi tinggi atau variansi besar, sedangkan pada fenomenologik kebenaran dibuktikan berdasar diketemukan yang esensial, pilah dari yang non-esensial atau eksemplar, dan sesuai dengan skema moral tertentu.
Dengan demikian, benar epistemologik menjadi berbeda dengan benar substantif. Benar positivistik berbeda dengan benar fenomenologik, berbeda dengan benar realisme metafisik. Bagi positivisme sesuatu itu benar bila ada korespondensi antara fakta yang satu dengan fakta yang lain. Bagi fenomena baru dapat dinyatakan benar setelah diuji korespondensinya dengan yang dipercayainya (belief). Pragmatisme mengakui kebenaran, bila faktual berfungsi (Muhadjir 1998:10)
1.     Teori Kebenaran
2.     Teori kebenaran korespondensi
Menurut teori ini, kebenaran adalah soal kesesuaian antara apa yang diklaim sebagai diketahui dengan kenyataan yang sebenarnya (Keraf dan Dua M, 2001: 66). Suatu pernyataan dapat dikatakan benar jika mengandung pernyataan yang sesuai dengan kenyataan yang ada. Dengan kata lain, kebenaran korespondensi terletak pada kesesuaian antara subjek dan objek. Teori kebenaran korespondensi ini adalah teori yang dapat diterima secara luas oleh kaum realis karena pernyataan yang ada selalu berkait dengan realita.
§  Teori kebenaran koherensi
Kebenaran ditemukan dalam relasi antara proposisi baru dengan proposisi yang  sudah ada. Suatu pengetahuan, teori, pernyataan, proposisi atau hipotesis dianggap benar kalau sejalan dengan pengetahuan, teori, proposisi atau hipotesis lainnya, yaitu kalau proposisi itu meneguhkan dan konsisten dengan proposisi sebelumnya yang dianggap benar (Keraf dan Dua M, 2001: 88). Dengan kata lain pernyataan dianggap benar jika pernyataan itu bersifat konsisten dengan pernyataan lain yang telah diterima kebenarannya, yaitu yang koheren menurut logika. Sebagai contoh, pernyataan “semua manusia pasti akan mati” adalah pernyataan yang benar, maka jika ada pernyataan bahwa saya pasti akan mati adalah pernyataan benar karena saya adalah manusia.
§  Teori kebenaran pragmatis
Teori pragmatis dicetuskan oleh filsuf pragmatis dari Amerika Serikat Charles S. Peirce (1839-1914) dalam sebuah makalah yang terbit pada tahun 1878 yang berjudul “How to Make our Ideals Clear”. Teori ini kemudian dikembangkan oleh beberapa ahli filsafat yang kebanyakan adalah berkebangsaan Amerika yang menyebabkan filsafat ini sering dikaitkan dengan filsafat Amerika. Ahli-ahli filsafat ini di antaranya adalah William James (1842-1910), John Dewey (1859-1952), George Herbert Mead (1863-1931) dan C.I. Lewis (Suriasumantri, 1984:57)
Bagi kaum pragmatis kebenaran adalah sama artinya dengan kegunaan. Ide, konsep, pengetahuan, atau hipotesis yang benar adalah ide yang berguna. Ide yang benar adalah ide yang paling mampu memungkinkan seseorang (berdasarkan ide itu) melakukan sesuatu secara paling berhasil dan tepat guna. Berhasil dan berguna adalah kriteria utama untuk menentukan apakah suatu ide itu benar atau tidak.
Bagi kaum pragmatis jika ide, pengetahuan atau konsep tidak ada manfaatnya maka ide tersebut merupakan ide yang tidak benar.
§  Teori kebenaran sintaksis
Teori ini berpangkal pada keteraturan gramatika yang dipakai oleh suatu pernyataan  tata-bahasa yang melekat. Jadi suatu pernyataan bernilai benar jika mengikutu aturan gramatika yang baku. Teori ini berkembang diantara para filsuf bahasa, terutama yang ketat terhadap pemakaian gramatika seperti Friederich Schleiermacher.
§  Teori kebenaran semantis
Teori ini dianut oleh faham filsafat analitika bahasa yang dikembangkan pasca filsafat Bertrand Russel sebagai tokoh pemula filsafat Analitika Bahasa. Menurut teori ini, suatu pernyataan dianggap benar ditinjau dari segi arti atau makna. Hal ini hendak menekankan bahwa suatu pernyataan benar jika pernyataan tersebut memiliki arti.
§  Teori kebenaran non-deskripsi
Teori kebenaran non-deskripsi dikembangkan oleh penganut filsafat fungsionalisme. Suatu pernyataan dianggap benar tergantung peran dan fungsi pernyataan itu sendiri. Pengetahuan akan memiliki nilai kebenaran sejauh pernyataan itu memiliki fungsi yang amat praktis dalam kehidupan sehari-hari.
§  Teori kebenaran logis yang berlebihan
Teori ini mempunyai pemahaman bahwa masalah kebenaran hanya merupakan kekacauan bahasa dan hal ini mengakibatkan adanya suatu pemborosan karena pada dasarnya pernyataaan yang hendak dibuktikan kebenarannya memiliki derajat logik yang sama dari masing-masing yang melingkupinya.
Sifat Kebenaran Ilmiah
Kebenaran ilmiah paling tidak memiliki tiga sifat dasar, yakni:
1.     Struktur yang rasional-logis. Kebenaran dapat dicapai berdasarkan kesimpulan logis atau rasional dari proposisi atau premis tertentu. Karena kebenaran ilmiah bersifat rasional, maka semua orang yang rasional (yaitu yang dapat menggunakan akal budinya secara baik), dapat memahami kebenaran ilmiah. Oleh sebab itu kebenaran ilmiah kemudian dianggap sebagai kebenaran universal. Dalam memahami pernyataan di depan, perlu membedakan  sifat rasional (rationality) dan sifat masuk akal (reasonable). Sifat rasional terutama berlaku untuk kebenaran ilmiah, sedangkan masuk akal biasanya berlaku bagi kebenaran tertentu di luar lingkup pengetahuan. Sebagai contoh: tindakan marah dan menangis atau semacamnya, dapat dikatakan masuk akal sekalipun tindakan tersebut mungkin tidak rasional.
2.     Isi empiris. Kebenaran ilmiah perlu diuji dengan kenyataan yang ada, bahkan sebagian besar pengetahuan dan kebenaran ilmiah, berkaitan dengan kenyataan empiris di alam ini. Hal ini tidak berarti bahwa dalam kebenaran ilmiah, spekulasi tetap ada namun sampai tingkat tertentu spekulasi itu bisa dibayangkan sebagai nyata atau tidak karena sekalipun suatu pernyataan dianggap benar secara logis, perlu dicek apakah pernyataan tersebut juga benar secara empiris.
3.     Dapat diterapkan (pragmatis). Sifat pragmatis, berusaha menggabungkan kedua sifat kebenaran sebelumnya (logis dan empiris). Maksudnya, jika suatu “pernyataan benar” dinyatakan “benar” secara logis dan empiris, maka pernyataan tersebut juga harus berguna bagi kehidupan manusia. Berguna, berarti dapat untuk membantu manusia memecahkan berbagai persoalan dalam hidupnya.
Kebenaran ilmiah adalah kebenaran yang sesuai dengan fakta dan mengandung isi pengetahuan. Pada saat pembuktiannya kebenaran ilmiah harus kembali pada status ontologis objek dan sikap epistemologis (dengan cara dan sikap bagaimana pengetahuan tejadi) yang disesuaikan dengan metodologisnya.
Hal yang penting dan perlu mendapat perhatian dalam hal kebenaran ilmiah yaitu bahwa kebenaran dalam ilmu harus selalu merupakan hasil persetujuan atau konvensi dari para ilmuwan pada bidangnya masing-masing.
Kebenaran ditemukan dalam pernyataan-pertanyaan yang sah, dalam ketidak-tersembunyian (aleteia). Kebenaran adalah kesatuan dari pengetahuan dengan yag diketahui, kesatuan subjek dengan objek, dan kesatuan kehendak dan tindakan. Kebenaran sering dianggap sebagai sesuatu yang harus “ditemukan” atau direbut melalui pembedaan antara kebenaran dengan ketidakbenaran.

    Pengetahuan dan Keyakinan

Pengetahuan tidak sama dengan keyakinan karena keyakinan bisa saja keliru, tetapi sah saja dianut sebagai keyakinan. Salah satu syarat untuk mengatakan bahwa seseorang mengetahui sesuatu adalah bahwa apa yang diklaimnya sebagai yang diketahui dalam kenyataannya memang demikian adanya. Dengan kata lain, pengetahuan selalu mengandung kebenaran. Apa yang diketahui harus benar, yaitu harus ditunjang oleh bukti-bukti berupa acuan pada fakta, saksi, memori, catatan historis, dsb. Selain itu ada pula istilah proposisi atau hipotesis yang merupakan pernyataan yang mengungkapkan apa yang diketahui dan atau diyakini sebagai benar yang perlu dibuktikan lebih lanjut.
Sumber Pengetahuan Rasionalisme dan Empirisme

Rasionalisme
Aliran ini berpendapat bahwa sumber pengetahuan yang mencukupi dan yang dapat dipercaya oleh akal sehat. Dalam rangka kerjanya, aliran ini mendasarkan diri pada cara kerja deduktif dalam menyusun pengetahuannya. Premis-premis yang digunakan dalam membuat rumusan keilmuwan harus jelas dan dapat diterima. Aliran atau paham ini sering juga disebut sebagai idealism atau realism.
Empirisme
Aliran ini berpendapat bahwa empiris atau pengalamanlah yang menjadi sumber pengetahuan, baik pengalaman yang batiniah maupun yang lahiriah. Aliran ini menutupi kelemahan dari aliran rasional yang hanya mengandalkan akal dalam membentuk pengetahuan. Metode yang digunakan adalah induksi.  Aliran ini menganggap bahwa pengetahuan manusia hanya didapatkan dari pengalaman yang konkret, dan bukan dari penalaran yang abstrak.

Kebenaran Ilmiah


Salah satu pokok yang fundamental dan senantiasa aktual dalam pergumulan hidup manusia merupakan upaya mempertanyakan dan membahasakan kebenaran. Kebenaran boleh dikata merupakan tema yang tak pernah tuntas untuk diangkat ke ranah akal (dan batin) manusia. Kebenaran menurut arti leksikalnya adalah keadaan (hal) yang cocok dengan keadaan (hal) yang sesungguhnya. Itu berarti kebenaran merupakan tanda yang dihasilkan oleh pemahaman (kesadaran) yang menyatu dalam bahasa logis, jelas dan terpilah-pilah (Bagus, 1991:86).
Kebenaran ilmiah tidak bisa dilepaskan dari makna dan fungsi ilmu itu sendiri sejauh mana dapat digunakan dan dimanfaatkan oleh manusia. Kebenaran ditemukan dalam pernyataan-pertanyaan yang sah, dalam ketidak-tersembunyian (aleteia). Kebenaran adalah kesatuan dari pengetahuan dengan yag diketahui, kesatuan subjek dengan objek, dan kesatuan kehendak dan tindakan. Kebenaran sering dianggap sebagai sesuatu yang harus “ditemukan” atau direbut melalui pembedaan antara kebenaran dengan ketidakbenaran.
Masalah Kepastian dan Falibilisme Moderat

Dalam empat macam kebenaran, melahirkan 2 pandangan yang berbeda, yaitu pandangan kaum rasionalis yang menekankan kebenaran logis-rasional, dan pandangan kaum empirisis yang menekankan kebenaran empiris.
Kebenaran kaum rasionalis bersifat sementara, terlepas dari seberapa tinggi tingkat kepastiannya karena kebenaran sebagai keteguhan dari suatu pernyataan atau kesimpulan sangat tergantung pada kebenaran teori atau pernyataan lain. padahal, teori atau pernyataan lain sangat mungkin salah.
Sedangkan kaum empirisis tidak pernah berpretensi untuk menghasilkan suatu pengetahuan yang pasti benar tentang alam. Bagi mereka, ilmu pengetahuan tidak memiliki ambisi seperti iman dalam agama. Ilmu pengetahuan tudak akan pernah memberikan suatu formulasi final dan absolut tentang seluruh universum = falibilisme.
Falibilisme beranggapan bahwa kendati pengetahuan ilmiah merupakan pengetahuan yang paling baik yang dapat kita miliki.
Ilmu Teknologi dan Kebudayaan.

Apabila kebudayaan adalah hasil karya manusia, maka ilmu sebagai hasil akal pikir manusia juga merupakan kebudayaan. Namun ilmu dapat dikatakan sebagai hasil akhir dalam perkembangan mental manusia dan dapat dianggap sebagai hasil yang paling optimal dalam kebudayaan manusia.
Ilmu adalah bagian dari pengetahuan.Untuk mendapatkan ilmu diperlukan  cara-cara tertentu, memerlukan suatu metode dan mempergunakan sistem, mempunyai  obyek formal dan obyek material. Karena pengetahuan adalah unsur dari kebudayaan, maka ilmu yang merupakan bagian dari pengetahuan dengan sendiriya juga merupakan salah satu unsur kebudayaan (Daruni, 1991).
Selain ilmu merupakan unsur dari kebudayaan, antara ilmu dan kebudayaan ada hubungan pengaruh timbal-balik. Perkembangan ilmu tergantung pada perkembangan kebudayaan, sedangkan  perkembangan ilmu dapat memberikan pengaruh pada kebudayaan. Keadaan sosial dan kebudayaan, saling tergantung dan saling mendukung. Pada beberapa kebudayaan, ilmu dapat  berkembang dengan subur. Disini ilmu mempunyai  peran ganda yakni:
1.      Ilmu merupakan sumber nilai yang mendukung  pengembangan  kebudayaan.
2.      Ilmu merupakan sumber nilai yang mengisi pembentukan watak bangsa.
Etika Keilmuan

Setiap aspek kehidupan memiliki etika yang harus ditaati, demikian pula dalam kehidupan ilmiah memiliki etika yang biasa disebut dengan nama ”etika keilmuan” yang mencakup tentang nilai-nilai yang baik maupun yang buruk, dan mengenai hak serta kewajiban bagi seorang ilmuwan atau mahasiswa. Oleh karena itu kami menyusun makalah ini agar kita mampu memahami tentang etika keilmuan dan menerapkannya dalam kehidupan sosial terutama bagi kita sebagai seorang mahasiswa yang diharuskan mampu memahami dan menerapkan suatu ilmu dengan tepat. Ada beberapa sikap yang mesti dimiliki seorang ilmuwan, yakni etika, moral, norma, kesusilaan, dan estetika. Sikap-sikap ini akan mencerminkan kepribadian seorang ilmuwan. Jika sikap-sikap di atas tidak dimiliki, kendati seseorang itu memiliki ilmu yang sangat tinggi, “derajatnya” akan dipandang rendah oleh masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar